Internet seharusnya menjadi ruang luas untuk bertukar ide dan kreativitas, namun bagi banyak orang, dunia digital justru berubah menjadi medan tempur yang penuh dengan permusuhan. Perundungan siber atau cyberbullying telah menjadi epidemi tersembunyi yang menyerang kesehatan mental jutaan pengguna, terutama generasi muda. Memasuki tahun 2026, urgensi untuk melawan perundungan di internet semakin mendesak. Tindakan ini bukan lagi sekadar pilihan moral, melainkan sebuah kewajiban kolektif untuk memastikan keamanan dan martabat setiap individu di jagat maya terjaga dengan baik.
Strategi Perlindungan dan Respons Cepat
Melawan perundungan digital memerlukan pendekatan yang taktis dan terukur. Berbeda dengan perundungan fisik, serangan di internet bisa terjadi secara anonim dan menyebar secara viral dalam hitungan detik. Oleh karena itu, membekali diri dengan kemampuan teknis untuk merespons serangan sangatlah penting.
-
Literasi Privasi Digital: Langkah preventif utama adalah membatasi informasi pribadi yang dibagikan secara publik. Mengatur akun menjadi privat dan memilah siapa saja yang bisa berinteraksi dengan kita adalah benteng pertahanan pertama.
-
Fitur Blokir dan Lapor: Pengguna harus berani menggunakan fitur pelaporan yang disediakan oleh platform media sosial. Melaporkan konten yang bersifat melecehkan membantu algoritma mengidentifikasi dan menghapus pelaku dari ekosistem digital.
-
Dokumentasi Bukti: Jika perundungan terjadi, jangan langsung menghapus pesan tersebut. Melakukan tangkapan layar (screenshot) sebagai bukti sangat penting jika kasus tersebut ingin dibawa ke ranah hukum atau dilaporkan kepada pihak berwenang.
Membangun Budaya Empati Digital
Di balik layar gawai, sering kali kita lupa bahwa ada manusia nyata dengan perasaan yang bisa terluka. Upaya melawan perundungan tidak akan efektif jika hanya mengandalkan fitur teknis tanpa adanya perubahan perilaku. Diperlukan sebuah gerakan masif untuk menumbuhkan etika berkomunikasi yang santun dan penuh empati di kolom komentar.
Masyarakat digital perlu didorong untuk menjadi upstander—individu yang berani bersuara membela korban—daripada sekadar menjadi bystander atau penonton pasif. Ketika komunitas secara kolektif menolak konten negatif dan memberikan dukungan moral kepada korban, ruang bagi perundung akan semakin menyempit. Edukasi mengenai dampak psikologis dari komentar jahat harus dimulai sejak dini, baik di lingkungan keluarga maupun sekolah, agar generasi mendatang memahami bahwa jempol mereka memiliki kekuatan besar untuk membangun atau menghancurkan hidup seseorang.
Sinergi Hukum dan Platform Teknologi
Pemerintah dan perusahaan teknologi juga memegang peranan kunci dalam menciptakan internet yang sehat. Penegakan hukum yang tegas terhadap pelaku perundungan yang melampaui batas, seperti ancaman kekerasan atau penyebaran data pribadi (doxing), akan memberikan efek jera. Di sisi lain, platform media sosial harus terus memperbarui teknologi AI mereka untuk mendeteksi ujaran kebencian secara proaktif sebelum konten tersebut sempat dikonsumsi oleh publik.
Melawan perundungan di internet adalah sebuah maraton, bukan sprint. Dibutuhkan konsistensi dari setiap pengguna untuk tetap menjaga jari agar tidak mengetik hal-hal yang tidak akan berani mereka katakan langsung di depan wajah orang lain. Dengan menciptakan lingkungan digital yang inklusif dan saling menghargai, kita sedang membangun fondasi bagi peradaban internet yang lebih manusiawi untuk masa depan.